Pemkab Maros Kerahkan 650 Personel Gabungan Atasi Hama Burung Pipit

MAROS, SULSELPASTI.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros menyikapi serius serangan hama burung pipit di dua Kecamatan di Kabupaten Maros.

Pasalnya selain membuka posko pengendalian pendataan korban serangan hama burung pipit, Pemkab Maros juga mengerahkan sekitar 650 personel gabungan untuk membantu petani dua Kecamatan di Maros, Senin, 16 Januari.

Bupati Maros, AS Chaidir Syam mengatakan langkah ini dilakukan setelah adanya laporan petani mengenai serangan burung pipit di area persawahan yang sudah hampir memasuki masa panen.

“Jadi apa yang kita lakukan hari ini merupakan langkah pemerintah daerah untuk membantu petani yang terdampak serangan burung pipit di dua kecamatan, yakni Turikale dan Bantimurung. Bantimurung itu yang terparah,” ungkapnya.

Dia mengatakan ada 650 personel gabungan yang diturunkan untuk membantu petani memasang jaring di area persawahan.

“Kita turunkan personel Satpol PP 500 orang, BPBD 100 orang dan pilar sosial tagana 50 orang. Personel gabungan ini kita turunkan untuk membantu petani memasang jaring di area persawahan yang masih bisa diselamatkan,” jelas mantan Ketua DPRD Maros ini.

Lebih lanjut kata dia, selama 2 minggu terakhir, sudah ada sekitar 90 hektare sawah petani yang diserang burung pipit.

“Tapi dari sekitar 90 hektare yang terdampak, ada sekitar 50 hektare yang gagal panen,”ungkapnya.

Chaidir berharap agar jaring yang dipasang ini mampu menghalau dan mengurangi populasi dari burung pipit ini. Sehingga area persawahan tersebut bisa terbebas dari serangan burung pipit.

“Jaring yang diberikan sekitar 60 buah dengan ukuran 3 meter kali 60 meter. Itu akan dipasang di sawah yang masih produktif,” sebutnya.

Dijelaskan Chaidir dugaan serangan burung pipit ini akibat jadwal tanam yang tidak bersamaan. Sehingga burung pipit hanya berkumpul di lokasi yang sudah hendak panen saja.

“Mungkin kondisi pola tanam yang tidak serentak dan penggunaan bibit varietas padi yang banyak diuji coba, dan rupanya berdampak buruk. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi,” katanya.

Akibat serangan burung pipit ini, sebagian besar petani mengalami gagal panen.

Sedangkan sebagian lagi memilih untuk memanen padi lebih awal, mengakibatkan kualitas padi tidak begitu maksimal.

“1 hektare bisa sampai 8-10 ton. Jika kita pasang jaring ini dengan cepat kita bisa selamatkan sekitar 70-80 persen jadi bisa kita selamatkan sekitar 30-30 persen. Jadi saat ini kerugian petani sekitar 210 ton, dikalikan harga gabah 4000 per kilogram itu bisa mencapai dikisaran Rp2,8 miliar,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu petani yang terdampak serangan burung pipit, Jufri mengatakan kalau setiap panen biasanya ia bisa memperoleh padi 400 karung dari sawahnya seluas kurang lebih 3 hektar. Namun sejak adanya serangan burung pipit ini dia hanya mendapatkan 20 karung saja.

“Ya kami petani terpaksa memanen padi meski masih muda karena adanya serangan burung pipit,” akunya. (*)

Comment