Irigasi MYP Rampung, Petani Bulukumba Optimistis Bisa Tanam Padi 3 Kali Setahun

BULUKUMBA, SULSELPASTI.COM — Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, mulai membawa harapan baru bagi petani. Pembangunan yang menjadi bagian dari Paket 1 Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan 2025–2027 itu kini telah mencapai sekitar 1,1 kilometer dari total 2,5 kilometer.

Jaringan tersebut ditargetkan mampu mengoptimalkan pengairan lahan pertanian sekitar 1.200 hektare. Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Baso Mauragawali, mengatakan keberadaan irigasi tidak hanya membantu mengairi lahan yang selama ini digarap, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan lahan baru.

Menurutnya, ketersediaan air yang lebih baik berpotensi meningkatkan produksi pertanian. Manfaatnya juga dirasakan dua desa, yakni Bontonyeleng dan Palang Barae.

Petani Desa Bontonyeleng, Jamaluddin, mengatakan sebelum rehabilitasi, aliran irigasi belum mampu menjangkau lahan di bagian hilir. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan mengoptimalkan lahan.

Kini, ia berharap frekuensi tanam dapat meningkat dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. “Dengan adanya irigasi ini, dari potensi garap sawah dua kali mudah-mudahan bisa sampai tiga kali nanti, khususnya tanam padi,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan petani muda Madasari. Ia menilai perbaikan irigasi dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk tetap tinggal di desa dan mengembangkan usaha pertanian, sekaligus meningkatkan prospek ekonomi sektor tersebut.

Secara keseluruhan, Pemprov Sulsel mengalokasikan Rp780 miliar untuk rehabilitasi jaringan irigasi yang melayani sekitar 54.000 hektare sawah di 16 kabupaten. Khusus Paket 1 di Bulukumba, Maros, Gowa, dan Sinjai, alokasi anggarannya sekitar Rp93 miliar. Untuk tiga daerah irigasi di Bulukumba, termasuk Bontonyeleng, anggarannya sekitar Rp16,5 miliar.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyebut normalisasi jaringan irigasi diarahkan untuk meningkatkan Indeks Pertanaman dan produktivitas pertanian. Dengan ketersediaan air yang lebih baik, petani diharapkan dapat meningkatkan frekuensi tanam hingga dua-tiga kali setahun. (*)

Comment