MAROS, SULSELPASTI.COM — Bupati Maros, AS Chaidir Syam bagi-bagi masker, Kamis, 15 Oktober 2026. Ini dilakukan menyusul kulitas udara di Kabupaten Maros yang masih masuk kategori tidak sehat.
Tak hanya menyasar sekolah-sekolah, Bupati Maros, AS Chaidir Syam didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bansawan Putra Patabai juga menyempatkan bagi-bagi masker ke pengguna jalan.
Hal dilakukan untuk mengurangi risiko paparan polusi udara yang mengandung partikel halus PM2.5.
Bupati Maros AS Chaidir Syam mengatakan, hasil pengukuran kualitas udara oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan indeks kualitas udara di Kabupaten Maros yang sempat mencapai angka 214 mikrogram per meter kubik, Rabu, 14 Oktober lalu.
Angka tersebut menunjukkan kondisi udara sangat tidak sehat. Meski angkanya sudah mengalami penurunan diangka 101 mikrogram per meter kubik, namun masih dalam level tidak sehat.
“Hari ini pagi ini kita mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi supaya anak-anak diwajibkan menggunakan masker,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Chaidir mengunjungi SD Negeri 30, SMP Negeri 1, dan SD Negeri 3 di Kabupaten Maros. Kemudian melanjutkan kegiatan bagi masker di Jalan Poros Maros.
Olehnya itu dia mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, untuk senantiasa menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul kondisi udara yang mengandung PM2.5, yakni partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan.
Dia mengatakan Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan kualitas udara.
Penurunan angka dari 214 menjadi 101 menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk tetap menerapkan kewajiban penggunaan masker, tanpa menerapkan pembelajaran daring untuk sementara waktu.
“Kita belum sampai ke pembelajaran daring, tetapi tetap menggunakan masker,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh pemangku kepentingan ikut menyampaikan peringatan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak polusi udara.
Chaidir mengatakan, kondisi udara tidak sehat tersebut telah berlangsung selama tiga hari.
Dimana hari sebelumnya, kualitas udara di Maros bahkan sempat menjadi yang terburuk di Sulawesi Selatan, dengan angka pengukuran mencapai 214.
Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan arah angin menuju Australia yang melintasi wilayah Kabupaten Maros.
“Iya, kemarin tertinggi karena kondisinya sangat buruk sekali. Penilaiannya itu 214,” kata Chaidir.
Dia berharap perubahan arah angin dapat membawa polusi menjauh dari wilayah Maros menuju kawasan laut sehingga kualitas udara kembali membaik.
Sambil menunggu kondisi tersebut, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker, khususnya saat berada di luar ruangan.
“Kita berharap kualitas udara terus membaik, dan masyarakat terus melindungi kesehatan dengan menggunakan masker,” harapnya. (*)

Comment