JAKARTA, SULSELPASTI.COM — Ada cerita yang tersimpan di balik sehelai kain. Tentang tangan-tangan yang tekun merawat tradisi, tentang motif yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan tentang identitas sebuah daerah yang tetap hidup meski zaman terus bergerak.
Cerita itulah yang dibawa Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar ke Jakarta. Di antara gemerlap stan dan riuh pengunjung INACRAFT October Vol. 5 2026, wastra dan kriya dari Kota Daeng hadir membawa warna, tekstur, dan jejak kebudayaan Sulawesi Selatan.
Pameran yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), 7–11 Oktober 2026, itu menjadi ruang perjumpaan antara karya para perajin Makassar dan pasar yang lebih luas.
Bukan hanya Baju Bodo dan sarung yang dibawa. Ada kain Lagosi, Cora’ La’ba, Walidah, hingga Sarung Basah. Beragam aksesori seperti kalung, bros, bando, tas, serta produk kriya lainnya turut melengkapi koleksi yang dipamerkan.
Setiap produk menawarkan karakternya sendiri. Ada yang membawa kekuatan tradisi melalui kain dan motif, ada pula yang menerjemahkan keterampilan perajin menjadi benda-benda yang dekat dengan keseharian masyarakat modern.
Di ruang pameran itu, tradisi tidak sekadar dipajang. Ia berhadapan langsung dengan mata pengunjung, pertanyaan calon pembeli, dan selera pasar yang terus berubah.
Bagi Dekranasda Kota Makassar bersama Dinas Perdagangan Kota Makassar, keikutsertaan dalam INACRAFT bukan semata-mata membawa produk ke luar daerah. Lebih dari itu, pameran menjadi kesempatan untuk membaca arah pasar sekaligus mencari jalan agar karya perajin lokal dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, melihat pertemuan langsung dengan pengunjung sebagai bagian penting dari proses pengembangan produk.
“Di pameran seperti ini kami bisa melihat langsung produk mana yang paling banyak ditanya atau diminati pengunjung. Itu penting, karena dari respons mereka ada masukan yang bisa kami bawa pulang untuk pengembangan produk bersama para perajin,” ujar Rosnani.
Bagi para perajin, respons pasar adalah bahasa yang perlu didengarkan. Pertanyaan tentang motif, warna, bahan, model, hingga fungsi sebuah produk dapat menjadi petunjuk untuk menentukan arah pengembangan berikutnya.
Sebab, mempertahankan tradisi bukan berarti membiarkannya berjalan tanpa perubahan. Ada ruang untuk berinovasi, selama akar budaya tetap menjadi pijakan.
Rosnani menegaskan, karakter khas produk Makassar harus tetap terjaga. Namun, bentuk dan penggunaannya juga perlu berkembang agar semakin mudah diterima masyarakat masa kini.
“Ciri khasnya tentu harus tetap dijaga. Tapi kita juga perlu melihat bagaimana produk-produk ini bisa lebih mudah dipakai dan diterima oleh masyarakat sekarang. Jadi tradisinya tetap ada, sementara model dan penggunaannya bisa terus berkembang,” katanya.
Di titik inilah tantangan kriya lokal menemukan bentuknya. Bagaimana menjaga warisan, tanpa membuatnya berjarak dari generasi baru? Bagaimana mempertahankan identitas, sekaligus menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari?
INACRAFT October Vol. 5 2026 mengusung tema “Techno Craft”. Teknologi menjadi salah satu jalan untuk memperkuat nilai dan daya saing produk kerajinan Indonesia, bukan untuk menggantikan keterampilan tangan ataupun kearifan lokal yang menjadi sumber kekuatannya.
Bagi Dekranasda Makassar, pendekatan tersebut membuka peluang dalam pengembangan desain, dokumentasi, promosi, hingga pemasaran produk. Teknologi dapat membantu karya perajin menjangkau lebih banyak orang, sementara karakter budaya tetap menjadi ruh yang membedakannya.
Pada hari pertama pameran, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming bersama Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming turut meninjau sejumlah stan di area JICC.
Dalam kunjungan tersebut, Wapres berdialog dengan pelaku usaha mengenai produk yang dihasilkan, termasuk proses pembuatan dan pengembangannya. Wapres dan Selvi juga membeli sejumlah produk dari stan yang dikunjungi.
Kunjungan itu menjadi bagian dari perhatian terhadap perkembangan industri kreatif dan kewirausahaan, termasuk upaya memperluas pengenalan produk lokal kepada masyarakat.
Skala penyelenggaraan INACRAFT tahun ini pun menunjukkan luasnya ruang pertemuan industri kriya Indonesia. Sebanyak 829 stan menempati lima hall JICC, dengan peserta yang berasal dari pelaku usaha dan anggota ASEPHI, pemerintah daerah, kementerian dan BUMN, peserta luar negeri, serta berbagai pelaku industri kerajinan lainnya.
Di tengah ratusan stan dan beragam produk dari berbagai daerah, karya perajin Makassar mendapat kesempatan untuk memperkenalkan kekhasannya. Namun, bagi Rosnani, arti penting pameran tidak berhenti ketika lampu-lampu ruang pameran dipadamkan dan pengunjung meninggalkan lokasi.
Ada hal yang lebih penting untuk dibawa pulang: catatan tentang selera konsumen, kemungkinan kerja sama, jaringan usaha baru, dan gagasan untuk membuat produk lokal semakin kompetitif.
Rosnani berharap keikutsertaan Dekranasda Makassar dalam INACRAFT dapat berlanjut pada langkah konkret bagi pengembangan perajin, mulai dari penyempurnaan produk hingga perluasan pasar.
“Yang kita harapkan setelah pameran tentu ada tindak lanjut. Bisa dari pengembangan produknya, perluasan pasar, maupun relasi baru yang nantinya bisa membantu perajin kita,” tutup Rosnani.
Pada akhirnya, perjalanan Cora’ La’ba, Lagosi, Walidah, dan Sarung Basah ke Jakarta bukan sekadar perjalanan antarkota. Ada identitas yang ikut dibawa, ada keterampilan yang diperkenalkan, dan ada harapan agar karya perajin Makassar menemukan lebih banyak ruang untuk tumbuh.
Sebab, tradisi akan terus hidup bukan hanya karena dikenang, melainkan juga karena diberi kesempatan untuk digunakan, dikembangkan, dan dikenal oleh generasi berikutnya. (*)

Comment