Dari Malino, IKAFIBRA Merajut Kembali Ingatan, Menyemai Gagasan, Menjemput Dampak

*Common Ground IKAFIBRA 2026

MALINO SULSELPASTI.COM — Di antara sejuknya udara Malino dan perjumpaan lintas generasi, ada sesuatu yang lebih hangat dari sekadar nostalgia: harapan agar ikatan alumni tak berhenti sebagai tempat mengenang masa lalu, tetapi tumbuh menjadi ruang kolaborasi yang memberi arti bagi masa depan.

Common Ground IKAFIBRA 2026 resmi menutup rangkaian kegiatannya pada Minggu (25/10/2026), setelah berlangsung di Makassar dan Malino sejak 22 Oktober. Pertemuan yang mengusung semangat berjejaring dan berdampak ini mempertemukan lebih dari seratus alumni Fakultas Ilmu Budaya dan Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas), dari angkatan 1986 hingga 2010.

Mereka datang membawa cerita dari zaman yang berbeda, pengalaman yang beragam, dan harapan yang bertemu pada satu pertanyaan: ke mana IKAFIBRA hendak melangkah?

Penutupan kegiatan berlangsung pada Sabtu malam (24/10/2026) di Villa Mawar, Malino, dipimpin Ketua Panitia Ano Suparno. Namun, inti pertemuan ini bukan semata-mata seremoni penutup. Yang lebih penting adalah percakapan yang tumbuh di antara para alumni tentang bagaimana organisasi dapat menemukan warna baru, merawat kebersamaan, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Menyatukan Generasi, Membuka Jalan Baru

Dalam forum silaturahmi lintas angkatan yang dipandu Ketua Harian IKAFIBRA, Risfayanti Muin, alumni Sastra Asia Barat angkatan 1992, berbagai aspirasi mengalir. Ada yang berbicara tentang pentingnya pembaruan organisasi, ada pula yang menyoroti perlunya sistem pendataan alumni yang lebih tertata.

Bagi Risfayanti, keberagaman gagasan itu menjadi penanda bahwa alumni masih menyimpan harapan besar terhadap masa depan IKAFIBRA.

“Banyak masukan yang kami dapatkan dari berbagai angkatan untuk kemajuan dan warna baru IKAFIBRA pada masa mendatang,” ujarnya.

Di tengah perubahan zaman, pendataan alumni melalui sistem berbasis aplikasi dinilai penting untuk menyatukan potensi yang selama ini tersebar. Keterlibatan generasi milenial juga perlu diperluas agar organisasi tidak hanya bertumpu pada pengalaman generasi terdahulu, tetapi turut bergerak bersama gagasan dan energi generasi yang lebih muda.

Sebab, sebuah organisasi alumni tak cukup hanya memiliki anggota. Ia perlu mengetahui siapa saja yang berada di dalamnya, apa yang dapat mereka lakukan, dan bagaimana kemampuan masing-masing dapat dipertemukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

Harapan itu pula yang disampaikan Hanafi, alumni Sastra Inggris angkatan 1993. Ia menginginkan IKAFIBRA memiliki badan usaha yang dapat menjadi ruang tumbuh bersama bagi alumni, terutama mereka yang bergerak di dunia bisnis maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baginya, jejaring alumni semestinya tidak berhenti pada pertukaran kabar atau pertemuan berkala. Ia dapat menjadi jalan untuk membuka peluang, mempertemukan kebutuhan dengan kemampuan, serta membantu usaha alumni berkembang melalui kolaborasi.

Sementara itu, Ammank Suharmank, alumni angkatan 1989, mengingatkan pentingnya kemampuan pengurus membaca peluang dan tantangan. Semangat berbagi atau sharing, menurutnya, perlu kembali dihidupkan agar alumni merasa memiliki ruang untuk terlibat dan berkontribusi.

Ketua Umum IKAFIBRA, A. Abdul Waris Halid, menyatakan bahwa berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan pengurus dalam menjalankan organisasi pada periode mendatang.

Salah satu agenda yang direncanakan dalam waktu dekat ialah pelepasan alumni yang akan memasuki dunia profesional, disertai penerimaan secara simbolis oleh organisasi alumni. Gagasan ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa, fakultas, dan para lulusan, sehingga hubungan dengan almamater tidak terputus ketika seseorang meninggalkan bangku kuliah.

Ketika Alumni dan Fakultas Bertemu dalam Satu Visi

Di balik pembicaraan tentang organisasi, tersimpan agenda yang lebih besar: memperkuat hubungan antara alumni dan fakultas tempat mereka pernah menempa diri.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Prof. Dr. Andi Akhmar, menekankan pentingnya keterlibatan alumni dalam mendukung visi dan misi fakultas. Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui pengembangan dana abadi yang diharapkan memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus menjadi penghubung antara dunia akademik dan masyarakat luas.

Dana abadi bukan sekadar persoalan menghimpun sumber daya. Di dalamnya ada harapan agar dukungan alumni dapat menjangkau generasi mahasiswa berikutnya, membantu mereka memperoleh kesempatan, dan menjaga keberlanjutan pengembangan institusi.

Prof. Andi Akhmar juga menyinggung rencana pembangunan Tower Budaya yang disebut telah memperoleh lampu hijau dari pemerintah pusat dan Rektorat Unhas.

“Kita berharap ada kolaborasi antara fakultas dan alumni akan rencana ini,” tandasnya.

Harapan tersebut menempatkan alumni bukan hanya sebagai bagian dari sejarah fakultas, melainkan sebagai mitra dalam membangun masa depannya. Pengalaman, jejaring, dan sumber daya yang dimiliki para lulusan dapat menjadi kekuatan untuk mendukung pengembangan fasilitas, program akademik, serta ruang-ruang baru bagi pertumbuhan kebudayaan.

Jika kampus adalah tempat gagasan ditumbuhkan, maka alumni adalah mereka yang membawa gagasan itu keluar, mengujinya dalam kehidupan, lalu kembali dengan pengalaman yang dapat dibagikan.

Dari Jejaring Menuju Kepedulian

Bahwa pertemuan alumni dapat menghasilkan sesuatu yang lebih konkret, Common Ground IKAFIBRA 2026 mencoba menunjukkannya melalui aksi sosial.

Ketua Panitia Ano Suparno mengatakan, kegiatan ini dirancang agar dapat berlangsung secara rutin. Semangat berjejaring dan berdampak menjadi pijakan supaya pertemuan alumni tidak berhenti pada keakraban internal, tetapi juga melahirkan kontribusi bagi masyarakat.

“Berjejaring dan berdampak menjadi ruang bagi alumni untuk mengabdi kepada masyarakat serta memperkuat jejaring alumni IKAFIBRA yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air,” kata Ano, alumni Sastra Indonesia yang berkiprah sebagai jurnalis dan penulis.

Semangat itu diterjemahkan melalui IKAFIBRA Care 2026. Pada Sabtu (24/10/2026), para alumni menyalurkan bantuan pangan kepada warga yang membutuhkan di Dusun Batulapisi, Malino.

“Kami mengumpulkan warga yang berada di bawah garis kemiskinan di Malino, mendatangi lokasi mereka, lalu membagikan bantuan pangan,” jelasnya.

Di tengah perbincangan mengenai sistem digital, peluang usaha, dan pembangunan fasilitas kampus, aksi sederhana tersebut mengingatkan bahwa ukuran sebuah jejaring bukan semata-mata seberapa luas hubungan yang dimiliki, melainkan sejauh mana hubungan itu dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Bantuan pangan mungkin tak serta-merta mengubah keadaan warga. Namun, kehadirannya membawa pesan bahwa kepedulian dapat dimulai dari langkah yang dekat, dari orang-orang yang bersedia meluangkan waktu, dan dari organisasi yang mau membuka diri terhadap persoalan di sekitarnya.

Malino Menjadi Titik Berangkat

Common Ground IKAFIBRA 2026 kini telah berakhir. Para alumni akan kembali ke kota masing-masing, pada pekerjaan dan kesibukan yang berbeda. Malino akan kembali pada kesejukannya, sementara percakapan yang tumbuh selama pertemuan itu menunggu untuk diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Tantangan IKAFIBRA setelah pertemuan ini adalah menjaga agar gagasan tidak berhenti sebagai catatan. Pendataan alumni perlu menemukan jalannya, generasi muda perlu memperoleh ruang, kolaborasi usaha perlu dirintis, dan sinergi dengan fakultas perlu diwujudkan dalam program yang terukur.

Begitu pula semangat kepedulian sosial, yang diharapkan tidak hanya hadir ketika sebuah kegiatan berlangsung, tetapi menjadi bagian dari karakter organisasi.

Pada akhirnya, alumni bukan hanya orang-orang yang pernah berbagi ruang kelas, membaca buku yang sama, atau melewati lorong kampus pada masa yang berbeda. Mereka adalah simpul-simpul pengalaman yang, ketika terhubung, dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan perubahan.

Dari Makassar hingga Malino, Common Ground IKAFIBRA 2026 telah membuka ruang untuk merajut kembali hubungan itu. Kini, pekerjaan berikutnya menanti: menjadikan kebersamaan sebagai kolaborasi, gagasan sebagai program, dan jejaring sebagai dampak yang benar-benar dirasakan alumni, almamater, serta masyarakat. (*)

Comment