LUWU UTARA, SULSELPASTI.COM – Genap satu tahun Andi Abdullah Rahim memimpin Kabupaten Luwu Utara. Di usia kepemimpinan yang masih seumur jagung itu, arah pembangunan mulai menemukan nadinya: dari penanganan banjir yang berulang, pencetakan sawah baru, pengadaan bibit sawit, hingga penguatan strategi pengentasan kemiskinan yang lebih terukur.
Bagi daerah berjuluk Bumi La Maranginang, setahun bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah rentang waktu yang diisi dengan upaya membenahi luka lama sekaligus menanam benih masa depan. Banjir yang saban musim menghampiri menjadi pekerjaan rumah paling mendesak. Pemerintah daerah memprioritaskan langkah-langkah penanganan dan mitigasi, menyadari bahwa tanpa rasa aman dari bencana, denyut ekonomi warga akan terus tersendat.
Di sektor pertanian, program cetak sawah menjadi simbol optimisme. Lahan-lahan potensial dibuka dan ditata, dengan harapan produksi pangan meningkat dan ketahanan ekonomi keluarga petani semakin kokoh. Pengadaan bibit sawit juga digulirkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang, memberi peluang bagi masyarakat untuk memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Memasuki tahun pertamanya, Andi Rahim—adik kandung Andi Syarifah Muhaeminah—terus merawat kedekatan dengan warga. Dalam forum “Secangkir Kopi” di Baebunta pekan lalu, ia berdiri bukan sekadar sebagai kepala daerah, tetapi sebagai pendengar. Ia meminta dukungan sekaligus kritik, menyebut masukan masyarakat sebagai vitamin yang memberi tenaga dan semangat dalam bekerja.
“Jangan lelah memberikan masukan kepada kami, karena masukan dari masyarakat ibarat vitamin yang mampu memberikan kekuatan dan semangat bagi kami untuk selalu bekerja dan berkinerja demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan publik adalah energi yang membuat roda pemerintahan berjalan di koridor yang benar. Ia berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat terus terjaga, agar visi pemerintahan yang diusung mampu diterjemahkan dalam kerja nyata.
Selain program prioritas daerah, Pemkab Luwu Utara juga menyiapkan langkah-langkah strategis yang dapat disinergikan dengan program pemerintah pusat. Penanganan banjir, cetak sawah, pengadaan bibit sawit, pengembangan kawasan peternakan, serta program pro-rakyat lainnya dirancang agar saling menopang dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dalam upaya mengakselerasi pengentasan kemiskinan, Andi Rahim memaparkan tiga strategi utama. Pertama, mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin melalui bantuan sosial dan subsidi yang tepat sasaran. Fokusnya agar pendapatan kelompok rentan tidak habis untuk kebutuhan dasar semata, sehingga mereka memiliki ruang untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kualitas hidup.
Strategi kedua adalah meningkatkan pendapatan masyarakat miskin melalui penguatan kapasitas dan daya saing ekonomi. Pemerintah daerah menaruh perhatian pada potensi kawasan pesisir yang membentang sekitar 72,65 kilometer. Garis pantai ini dinilai menyimpan peluang besar untuk pengembangan rumput laut, ikan kerapu, lobster, hingga budidaya perikanan melalui keramba laut.
Sebagai alumnus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, ia melihat wilayah sempadan pantai bukan sekadar batas geografis, tetapi ruang strategis yang harus dikelola, dilindungi, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Pengelolaan yang tepat diyakini mampu menghadirkan sumber-sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Adapun strategi ketiga menyasar kantong-kantong kemiskinan yang selama ini tertinggal. Pemerintah daerah berupaya memperbaiki infrastruktur, kualitas lingkungan, serta akses layanan dasar di wilayah dengan konsentrasi penduduk miskin yang tinggi. Tujuannya agar tidak ada lagi kawasan yang terisolasi atau tertinggal dalam kualitas hidup.
Bagi Andi Rahim, pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara seremonial. Ia menekankan pentingnya intervensi program yang terukur dan masif, berbasis data yang akurat. Pendekatan by name by address menjadi kunci agar bantuan dan program benar-benar fungsional dan bermanfaat.
“Kita tidak ingin hanya memberi ikannya saja, tetapi juga kailnya,” tegasnya.
Setahun pertama kepemimpinan ini menjadi fondasi. Tantangan tentu belum selesai, dan jalan masih panjang. Namun di tengah hamparan sawah yang mulai ditata, garis pantai yang dirancang sebagai pusat pertumbuhan baru, serta komitmen memperbaiki nasib warga miskin, harapan itu pelan-pelan disulam—menjadi janji yang terus diuji oleh kerja dan waktu. (*)

Comment