MAKASSAR, SULSELPASTI.COM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membuka peluang memperluas kerja sama ekonomi dengan Swiss, khususnya melalui investasi dan pengembangan komoditas unggulan daerah.
Hal itu dibahas Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi saat menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Konstantin Obolensky di atas Kapal Phinisi KLM Makessing, Pantai Losari, Makassar, Rabu (23/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah prioritas ekonomi Sulsel, peluang investasi, serta pengembangan program e-Seaweed yang mendapat dukungan Swiss melalui program ILO PROMISE II IMPACT.
Fatmawati menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan International Labour Organization (ILO) dalam pengembangan sektor rumput laut di Sulsel.
“Terima kasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan kepada 200 petani rumput laut lokal kami. Kontribusi ini tidak hanya memperkuat mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menjadi landasan untuk mempererat persahabatan dan kerja sama berorientasi masa depan antara Swiss dan Sulawesi Selatan,” kata Fatmawati.
Menurut dia, Sulsel memiliki potensi ekonomi yang besar pada sektor kelautan, pertanian, pariwisata, serta energi baru dan terbarukan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah rumput laut. Sulsel merupakan salah satu provinsi penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Pada 2024, produksinya mencapai 180.432 ton yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir, seperti Luwu, Takalar, dan Wajo.
Pemprov Sulsel kini mendorong agar komoditas tersebut tidak berhenti sebagai bahan mentah. Hilirisasi diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah, mulai karagenan, agar-agar, alginat, bahan farmasi hingga bioplastik.
“Potensi hilirisasi rumput laut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah daerah melalui pembangunan pabrik pengolahan terpadu, seperti karagenan, agar-agar dan alginat, serta penyediaan cold storage dan rantai dingin ekspor,” ujarnya.
Tak hanya rumput laut, Fatmawati juga memperkenalkan potensi komoditas unggulan Sulsel lainnya kepada delegasi Swiss, termasuk kakao, kopi, dan garam.
Produksi kakao Sulsel pada 2025 tercatat mencapai 79.740 ton. Sementara produksi kopi mencapai 30.665 ton yang antara lain berasal dari Kabupaten Enrekang, Toraja Utara, dan Tana Toraja.
Adapun produksi garam Sulsel tercatat lebih dari 30.900 ton, dengan Kabupaten Jeneponto menjadi salah satu sentra utamanya.
Fatmawati menilai potensi tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar jika didukung investasi dan kemitraan yang tepat.
“Seluruh potensi besar ini akan semakin memberikan dampak nyata jika didorong oleh investasi dan kemitraan yang tepat. Melalui Dinas PMPTSP, kami siap mempermudah proses perizinan dan memberikan kenyamanan bagi para investor asal Swiss untuk berinvestasi di Sulawesi Selatan,” tegasnya.
Duta Besar Swiss Konstantin Obolensky menyambut positif kerja sama yang telah berjalan dengan Sulsel, terutama dalam pengembangan sektor rumput laut.
Ia juga melihat peluang untuk memperluas kerja sama pada komoditas unggulan lain, termasuk kopi dan kakao.
“Saya sangat bangga melihat bahwa kita bekerja sama dengan sangat erat dalam dimensi rumput laut ini. Saya sangat berharap para importir dan produsen asal Swiss dapat menemukan mitra dialog untuk membahas apakah mereka bisa mengambil lebih banyak pasokan bahan baku dari provinsi Anda yang indah ini,” ujar Konstantin.
Selain aspek perdagangan dan investasi, Konstantin menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam Sulsel. Menurutnya, keberlanjutan lingkungan berkaitan erat dengan kesehatan serta masa depan generasi mendatang.
Sementara itu, Country Director ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh mengatakan ILO melihat peluang memperluas kerja sama di Sulsel, terutama dalam bidang ketenagakerjaan, UMKM, pariwisata, dan pengembangan rantai nilai rumput laut.
Program yang berjalan saat ini telah mendampingi 200 petani rumput laut. Jumlah tersebut, kata dia, berpeluang diperluas hingga 2.000 petani.
“Tujuannya adalah melahirkan sektor rumput laut yang lebih sejahtera, lebih baik dan lebih berdaya saing melalui instrumen serta pengetahuan yang dimiliki,” ujarnya.
Head of Economic Cooperation and Development SECO Indonesia Violette Ruppanner menambahkan, kerja sama Swiss dengan Sulsel telah mencakup sejumlah sektor, seperti pengembangan keterampilan vokasi, energi terbarukan, bangunan hijau, hingga penguatan iklim usaha.
SECO juga mendukung pengembangan keterampilan energi terbarukan melalui proyek Renewable Energy Skills Development yang beraktivitas di Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Selain itu, SECO sebelumnya turut mendukung Kota Makassar dalam penyusunan konsep Bus Rapid Transit (BRT) dan perencanaan ketahanan kota.
Pertemuan di atas kapal phinisi tersebut kemudian ditutup dengan santap malam bersama dan penyerahan cenderamata khas Sulsel.
Pada 2026, Swiss dan Indonesia memperingati 75 tahun hubungan diplomatik. Kerja sama kedua negara mencakup perdagangan dan investasi, ekonomi, pendidikan, sains dan inovasi, keberlanjutan, budaya, hingga pariwisata.
Hubungan ekonomi kedua negara juga didukung EFTA-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Saat ini, lebih dari 150 perusahaan Swiss beroperasi di Indonesia.
Khusus di Sulsel, hubungan kedua pihak turut diperkuat dengan keberadaan Konsulat Kehormatan Swiss di Makassar.
Turut hadir Konsul Kehormatan Swiss di Makassar Julia Pupella, jajaran pejabat SECO dan ILO, para Staf Ahli Gubernur, serta kepala dinas lingkup Pemprov Sulsel. (*)

Comment