MAKASSAR, SUSELPASTI.COM — Sebuah kota tidak hanya dibangun dari jalan yang membentang, gedung yang menjulang, atau kawasan yang terus tumbuh. Ada sesuatu yang lebih dalam yang membuatnya tetap memiliki jati diri: ingatan tentang masa lalu, petuah para leluhur, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Makassar, ingatan itu menemukan bentuk baru melalui sebuah logo. Filosofi pappaseng—petuah yang menyimpan kebijaksanaan hidup masyarakat Bugis-Makassar—dipilih sebagai napas identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar. Tradisi yang dahulu hidup melalui tutur kata kini diterjemahkan ke dalam bahasa desain modern.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meluncurkan logo tersebut di Makassar Creative Hub (MCH), Jalan Nusantara, Jumat (9/10/2026). Peluncuran ini menjadi penanda awal rangkaian perayaan hari jadi kota yang mengusung tema “Nyalakan Harapan, Merawat Masa Depan”.
Tema itu membawa pesan bahwa perjalanan panjang Makassar bukan semata-mata tentang usia. Ada warisan yang perlu dirawat, harapan yang harus terus dinyalakan, dan masa depan yang mesti dipersiapkan bersama.
Bagi Munafri, yang akrab disapa Appi, logo hari jadi tidak seharusnya berhenti sebagai ornamen perayaan. Ia perlu memiliki pijakan filosofis sekaligus mampu menyampaikan identitas kota kepada masyarakat dengan bahasa visual yang dekat dengan perkembangan zaman.
“Sayembara logo ini adalah bagaimana kita memastikan keseriusan untuk melibatkan teman-teman yang sudah berkecimpung di dunia desain agar bisa bersama-sama dengan pemerintah kota menghadirkan logo yang proper,” ujarnya.
Logo tersebut lahir melalui sayembara yang diselenggarakan Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pariwisata, bekerja sama dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Makassar. Proses ini membuka ruang bagi para desainer untuk menerjemahkan karakter dan kearifan lokal ke dalam karya yang dapat mewakili wajah kota.
Dari proses seleksi dan presentasi akhir yang melibatkan empat finalis, Agung Alfata dari Tudob Studio terpilih sebagai pemenang.
Karyanya mengangkat pappaseng sebagai inti gagasan. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, petuah bukan sekadar rangkaian kata. Ia menyimpan pengalaman hidup, cara membaca alam, serta pandangan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan dan mewariskan kebijaksanaan kepada generasi berikutnya.
Nilai itulah yang coba dihidupkan kembali melalui desain. Pesan leluhur tidak dibiarkan tinggal sebagai kenangan, tetapi diolah menjadi identitas visual yang lebih kontemporer, atraktif, dan dekat dengan masyarakat masa kini.
Munafri melihat perpaduan tersebut sebagai cara untuk menjaga budaya sekaligus membuatnya tetap relevan.
“Saya melihat ada beberapa hal yang dipadukan. Pertama, tagline menyalakan harapan di dalam situ, yang diambil dari filosofi Makassar, yaitu pappaseng,” jelasnya.
Baginya, modernitas tidak harus membuat sebuah kota menjauh dari akar budayanya. Justru melalui pendekatan kreatif, nilai-nilai yang diwariskan leluhur dapat menemukan ruang baru untuk dikenal dan dipahami oleh generasi yang hidup dalam perubahan zaman.
“Budaya, local wisdom, harus benar-benar terus kita jaga. Karena ini merupakan identitas yang dari zaman dulu menjadi penguat bagi kita semua,” tegasnya.
Di balik gagasan itu, tersimpan tantangan yang tidak sederhana. Bagaimana menerjemahkan petuah yang sarat makna menjadi simbol visual yang mudah dikenali? Bagaimana membuat desain terasa meriah tanpa kehilangan kedalaman pesan budaya yang menjadi fondasinya?
Agung Alfata mencoba menjawab tantangan tersebut melalui proses perancangan yang berlangsung sekitar satu bulan. Dengan latar belakang pendidikan desain komunikasi visual di Universitas Negeri Makassar (UNM), ia mengolah gagasan filosofis menjadi karya yang diharapkan mampu menjembatani tradisi dan kebutuhan komunikasi visual masa kini.
“Pappasang ini kami angkat sebagai highlight dalam logo Kota Makassar. Kami melihat bagaimana petuah-petuah leluhur lahir dari cara mereka merespons alam, kemudian menjadi pesan untuk anak-anak dan generasi penerusnya,” jelas Agung.
Dalam prosesnya, Agung bersama tim Tudob Studio mendapat pendampingan ADGI Chapter Makassar untuk mematangkan konsep dan memperkuat daya tarik visual. Mereka juga menyiapkan sejumlah mockup guna memperlihatkan bagaimana logo dapat diterapkan dalam berbagai kebutuhan komunikasi dan perayaan.
Pilihan warna diarahkan untuk membangun kesan meriah sekaligus membawa pesan optimisme. Harapannya, identitas visual itu tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menghidupkan semangat yang terkandung dalam tema hari jadi.
“Esensinya, kami ingin mendapatkan kesan festif-nya. Tujuan penggunaan warnanya adalah bagaimana menumbuhkan harapan dan sikap optimistis,” tutur Agung.
Bagi Agung, sayembara ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi desain logo hari jadi Kota Makassar atas nama pribadi maupun studio. Bersama dua anggota tim lainnya, ia mengolah gagasan dengan latar pengalaman yang berbeda, hingga menghasilkan karya yang akhirnya dipilih untuk mewakili perayaan kota.
Kemenangan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana kreativitas anak muda dapat menjadi bagian dari upaya merawat identitas daerah. Desain tidak sekadar menghadirkan bentuk dan warna, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan nilai budaya kepada khalayak yang lebih luas.
Sementara itu, bagi Makassar yang memasuki usia ke-419 tahun, pesan tentang harapan dan masa depan memiliki konteks yang lebih besar. Kota terus menghadapi perubahan, mulai dari pertumbuhan penduduk hingga tantangan lingkungan dan kebutuhan menghadirkan ruang hidup yang layak bagi masyarakat.
Dalam keadaan seperti itu, harapan tidak cukup hanya diucapkan. Ia membutuhkan kerja nyata, kolaborasi, serta keputusan pembangunan yang memperhitungkan kepentingan generasi mendatang.
Munafri menegaskan bahwa membangun kota bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat dan pelaku industri kreatif juga memiliki ruang untuk berkontribusi, termasuk dalam membentuk identitas kota melalui gagasan dan karya.
Ia mengapresiasi seluruh finalis yang telah menghadirkan perspektif berbeda dalam memaknai harapan dan modernitas, serta menyampaikan terima kasih kepada ADGI Chapter Makassar atas keterlibatannya dalam proses sayembara.
Melalui peluncuran logo tersebut, Pemerintah Kota Makassar berharap perayaan hari jadi menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, merawat warisan budaya, dan menumbuhkan optimisme terhadap masa depan.
Pada akhirnya, pappaseng mengingatkan bahwa masa depan tidak pernah benar-benar terpisah dari masa lalu. Ada kebijaksanaan yang perlu dibawa, ada nilai yang mesti dijaga, dan ada tanggung jawab yang harus diteruskan.
Di usia ke-419 tahun, Makassar merayakan perjalanannya dengan sebuah pesan: menyalakan harapan berarti berani melangkah ke depan, sementara merawat masa depan berarti tidak melupakan akar yang membuat kota ini tetap memiliki jati diri. (*)

Comment