JAKARTA, SULSELPASTI.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menerima Anugerah Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan 2026 dari Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia. Penghargaan bergengsi ini diserahkan di Jakarta, Rabu (15/4/2026), sebagai apresiasi atas kepemimpinan strategis dan transformasional BPOM dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan nasional di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Penganugerahan tersebut berlangsung usai forum diskusi strategis GP Farmasi Indonesia yang membahas kenaikan harga obat akibat tekanan global, mulai dari gejolak geopolitik, gangguan rantai pasok bahan baku farmasi, hingga fluktuasi biaya logistik internasional. Momentum ini menegaskan relevansi kepemimpinan BPOM dalam merespons tantangan krusial yang dihadapi industri dan masyarakat.
Forum tersebut dihadiri pelaku industri farmasi, pemangku kepentingan kesehatan, serta perwakilan pemerintah, dan menjadi ruang konsolidasi nasional untuk merumuskan langkah bersama menjaga stabilitas harga serta ketersediaan obat di dalam negeri.
Ketua Umum GP Farmasi Indonesia, F. Tirto Koesnadi, menilai penghargaan ini sebagai pengakuan industri atas kepemimpinan yang mampu menjembatani kepentingan pengawasan dan keberlanjutan industri. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, BPOM tampil tegas dalam pengawasan sekaligus progresif dalam mendorong inovasi—sebuah keseimbangan penting di tengah ketidakpastian global.
Menanggapi penghargaan tersebut, Taruna Ikrar menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran BPOM serta kolaborasi erat dengan industri, akademisi, dan pemerintah. Ia menekankan komitmen BPOM untuk terus memperkuat pengawasan berbasis sains, mempercepat digitalisasi perizinan, dan mendorong kemandirian farmasi nasional agar tidak rentan terhadap tekanan global.
Taruna juga menyoroti dampak langsung dinamika geopolitik dunia terhadap sektor kesehatan, termasuk gangguan distribusi dan meningkatnya biaya energi serta logistik yang berpotensi memicu kenaikan harga obat. Karena itu, ia menegaskan pentingnya penguatan ketahanan nasional di bidang farmasi melalui hilirisasi bahan baku dan penguatan industri dalam negeri.
Di bawah kepemimpinannya, BPOM mencatat capaian strategis, antara lain diraihnya status World Health Organization Listed Authority (WLA), yang menempatkan Indonesia sejajar dengan otoritas pengawas negara maju seperti US Food and Drug Administration dan European Medicines Agency. Status ini menjadi pintu bagi produk farmasi Indonesia menembus pasar global.
Selain transformasi digital dan penguatan pengawasan rantai pasok, BPOM juga menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan pertumbuhan industri nasional. Anugerah ini kian menegaskan peran BPOM sebagai institusi strategis negara—bukan hanya penjaga mutu dan keamanan produk, tetapi juga motor penggerak ekonomi nasional.
Ke depan, BPOM bersama GP Farmasi Indonesia berkomitmen mempererat kolaborasi dalam pengembangan industri farmasi berbasis riset dan inovasi, guna meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global menuju visi Indonesia Emas 2045. (*)

Comment