Dorong Sanitasi Hijau Berkelanjutan, Fatmawati Rusdi Dukung Perluasan Program RISE di Sulsel

MAKASSAR, SULSELPASTI.COM — Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, menyatakan dukungannya terhadap rencana perluasan Program RISE (Revitalising Informal Settlements and their Environments) sebagai upaya memperkuat sanitasi berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Komitmen tersebut disampaikan saat menerima Konsul Jenderal Australia, Todd Dias, bersama tim akademisi dari Monash University di Rumah Jabatan Wakil Gubernur Sulsel, Senin (22/6).

Pertemuan ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Australia, dan kalangan akademisi dalam mengembangkan solusi sanitasi berbasis alam yang berkelanjutan. Program RISE telah berjalan selama sembilan tahun di Makassar dan dikenal sebagai kolaborasi riset-inovasi yang mengedepankan nature-based solutions untuk meningkatkan kualitas sanitasi, pengelolaan air, dan kesehatan masyarakat di kawasan permukiman informal serta wilayah rawan banjir.

Program Co-Director RISE, Diego Ramirez, menjelaskan bahwa pendekatan RISE tidak semata membangun infrastruktur sanitasi, tetapi juga melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Setiap solusi dirancang menyesuaikan karakteristik wilayah agar sistem sanitasi dan pengelolaan air dapat berfungsi berkelanjutan.

Ia menambahkan, penerapan infrastruktur hijau seperti constructed wetlands atau lahan basah buatan terbukti meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus kesehatan warga di lokasi intervensi.

Keberhasilan implementasi RISE di Makassar mendapat perhatian di berbagai forum internasional yang membahas pembangunan berkelanjutan dan kesehatan lingkungan. Selama sembilan tahun pelaksanaan, program ini menunjukkan keterkaitan kuat antara perbaikan sanitasi dan peningkatan kesehatan anak, terutama dalam menurunkan risiko penyakit saluran pencernaan.

Program RISE juga melibatkan beragam mitra akademik dan lembaga riset untuk memantau dampak intervensi secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis riset ini memastikan setiap program memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.

Atas capaian tersebut, Makassar masuk lima besar dunia dalam ajang WRI Ross Center Prize for Cities yang diumumkan di New York pada April 2026. Dari sekitar 300 kota yang diseleksi secara global, Makassar terpilih bersama sejumlah kota dari berbagai negara.

Penghargaan ini kian mengukuhkan posisi Makassar sebagai contoh praktik pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat di tingkat internasional.

Hingga kini, enam lokasi percontohan—Batua, Bonolengga, Barombong, Untia, Tallo, dan Kaluku Bodoa—telah rampung dibangun dengan dukungan Pemerintah Australia. Sementara enam lokasi tambahan sedang dipersiapkan untuk tahap berikutnya.

Melihat keberhasilan tersebut, Pemerintah Australia mengusulkan Makassar sebagai pusat pelatihan nasional Program RISE. Pusat pelatihan direncanakan berlokasi di Universitas Hasanuddin, agar pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia dapat belajar langsung dari pengalaman Makassar sebelum mereplikasi program serupa.

Todd Dias menilai pengalaman Makassar menjadi modal penting untuk mempercepat pengembangan RISE ke daerah lain. Dibanding memulai dari nol di wilayah baru yang memerlukan waktu membangun kepercayaan masyarakat, praktik baik Makassar dinilai efektif sebagai rujukan percepatan ekspansi Program RISE di Sulawesi Selatan.

Selain perluasan wilayah, pertemuan juga menyoroti pentingnya skema pendanaan bersama (co-funding) antara Pemerintah Australia, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah demi menjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang. (*)

Comment