MAKASSAR, SULSELPASTI.COM — Kota ini tak pernah benar-benar diam. Di balik hiruk-pikuk jalanan, deru pembangunan, dan angka-angka statistik yang naik turun, Makassar terus berdenyut sebagai ruang hidup warganya. Setahun setelah kemudi pemerintahan berada di tangan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham, kota pesisir ini mulai membaca dirinya kembali—bukan hanya lewat data, tetapi juga melalui denyut sosial yang kerap luput dari laporan resmi.
Secara makro, Makassar menampilkan wajah yang menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi bergerak stabil, tingkat pengangguran menurun, dan Indeks Pembangunan Manusia berada di atas rata-rata nasional. Namun, menurut Dr. Sawedi Muhammad, kota tak sesederhana deret angka. Ia adalah ruang hidup—tempat emosi, interaksi, dan harapan saling bersinggungan.
Dalam paparan reflektifnya di Lapangan Karebosi, Jumat (20/2/2026), akademisi Universitas Hasanuddin itu mengajak publik menengok Makassar dari kacamata sosiologi. Perspektif ini, katanya, bukan untuk menafikan capaian, melainkan memperkaya cara membaca kota.
Sawedi menuturkan, indikator universal seperti pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan IPM memang penting. Namun, ia mengingatkan adanya lapisan-lapisan sosial yang tak selalu terwakili. Pemerataan pembangunan, tantangan generasi muda, hingga kualitas ruang publik adalah fragmen penting dari cerita kota yang utuh.
Ia menyinggung gini ratio sebagai cermin pemerataan yang masih perlu dibaca lebih jujur. Di sejumlah wilayah—termasuk Tallo dan kawasan utara—jejak permukiman kumuh masih menjadi catatan. Sementara itu, generasi muda menghadapi kerentanan sosial yang serius. Data kepolisian menunjukkan ribuan kasus kekerasan dan kriminalitas, sebuah sinyal bahwa pembangunan fisik harus diimbangi pembangunan sosial.
“Dalam perspektif sosiologi, kota bukan panggung monolog,” ujar Sawedi. “Ia adalah arena kontestasi banyak aktor yang memperebutkan akses dan sumber daya.” Angka-angka, lanjutnya, dapat menjadi pemantik kreativitas dan inovasi, sekaligus peringatan agar arah pembangunan tetap inklusif dan berkelanjutan.
Ia menafsirkan kata unggul sebagai keberanian menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan inklusif sebagai komitmen agar tak ada warga yang tertinggal. Meski pertumbuhan ekonomi telah menembus lebih dari 5 persen dan IPM mencapai 85,66 persen, penguatan sektor informal dan pemerataan manfaat pembangunan masih memerlukan perhatian ekstra.
Sawedi juga menyoroti pergeseran paradigma dari government ke governance—dari pola hierarkis menuju kolaborasi. Dialog publik, katanya, menjadi kunci. Upaya membangun trotoar yang lebih manusiawi melalui komunikasi dengan warga ia sebut sebagai contoh keberanian merawat ruang publik.
Di ujung paparannya, ia menitipkan sejumlah catatan: riset perilaku generasi muda agar energi mereka diarahkan ke aktivitas positif, penanganan kemacetan secara sistematis untuk menekan kerugian ekonomi dan emosional, serta pengendalian banjir yang tak berhenti pada pembentukan satuan tugas, tetapi berlanjut pada program nyata.
Setahun MULIA, Makassar memang telah melangkah. Namun, sebagaimana kota yang hidup, ia masih terus belajar—mendengar, menimbang, dan menata diri agar kemajuan tak hanya terasa, tetapi juga adil dan berkelanjutan. (*)

Comment