MAROS, SULSELPASTI.COM — Selama lima tahun terakhir tercatat ada sekitar 165 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maros. Penularannya masih dominan akibat Lelaki Seks Lelaki (LSL).
Bupati Maros, AS Chaidir Syam mengatakan jika dilihat dari data maka penyebarannya tertinggi LSL. “Untuk kelompok risiko penyebaran tertinggi yakni LSL dengan jumlah 43 orang,” katanya Senin, 1 Desember 2025 usai peringatan Hari AIDS Sedunia yang digelar di Ruang Pola, Kantor Bupati Maros.
Dia mengatakan selama lima tahun terakhir tercatat jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi terjadi ditahun 2024 dengan jumlah 48 kasus. “Jadi sejak tahun 2021 hingga 2024 jumlah kasus terus meningkat. Tapi untuk periode Januari hingga November 2025 mengalami penurunan. Dimana tahun 2021 tercatat 23 kasus, 2022 ada 32 kasus, 2023 sekitar 39 kasus, kemudian 2024 sebanyak 48 kasus, dan hingga November 2025 tercatat ada sekitar 20 kasus,” jelasnya.
Untuk penyebab meningkatnya HIV/AIDS kata dia, disebabkan obat-obatan dan hubungan seks bebas. Olehnya itu untuk meminimalisir meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS, pada peringatan Hari AIDS Sedunia mengukuhkan forum masyarakat peduli HIV/AIDS di tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan.
“Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian semua pihak dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS mulai dari tingkat desa, kelurahan hingga kecamatan,” katanya.
Juga menjadi langkah preventif untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Maros, sambungnya. “Pemerintah daerah akan memperkuat sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat umum, terutama terkait bahaya perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas. Harapannya, kita bisa memberikan edukasi dan sosialisasi secara masif agar masyarakat, khususnya generasi muda, terhindar dari bahaya HIV/AIDS, terutama yang berasal dari penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku seksual berisiko,” ungkap mantan Ketua DPRD Maros ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Malik Faisal menyebut jika jumlah kasus HIV/AIDS di Sulsel menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Dia mengurai jumlah kasus tahun 2020 tercatat 1.526 kasus, kemudian ditahun 2021 sebanyak 1.881 kasus, 2022 sekitar 2.575 kasus, tahun 2023 sebanyak 2.669 kasus, dan 2024 tercatat 2.486 kasus.
“Jadi memang secara umum terjadi peningkatan signifikan dari 2020 sampai 2023, meskipun di 2024 mulai mengalami penurunan,” sebutnya.
Dimana rentang usia yangvterjangkut HIV/AIDS kata dia, terdiri atas remaja. “Meski ada beberapa anak-anak karena tertular dari orang tuanya yang terjangkit HIV/AIDS dan adapula yang karena pergaulan seks bebas serta narkoba,” katanya.
Dia juga menyebut kalau momentum peringatan Hari HIV/AIDS ini menjadi tugas bersama bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus melakukan sosialisasi dan pencegahan.
Menyoal wilayah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Sulawesi Selatan, kata dia, yakni di Kota Makassar, Parepare, dan Palopo. “Untuk penyebab penularan terbesar berasal dari penggunaan narkoba suntik secara bergantian dan perilaku seks bebas yang tidak aman,” ungkapnya.
Olehnya itu pihaknya terus berupaya untuk menekan pergaulan bebas dan meningkatkan edukasi sejak dini. “Makanya kegiatan ini sengaja melibatkan mahasiswa dan pelajar karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kita tidak akan bisa mencapai Indonesia Emas jika generasi mudanya rusak oleh narkoba dan HIV/AIDS,” jelasnya.
Meski tingkat kematian akibat HIV/AIDS relatif rendah, kata dia, penderita wajib menjalani terapi ARV secara rutin untuk memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup. (*)

Comment