LUWU UTARA, SULSELPASTI.COM — Minggu (16/8/2026), Kappuna seperti sedang membuka kembali lembaran lama yang nyaris tak pernah benar-benar ditutup. Di sana, adat, sejarah, dan harapan masa depan bertemu dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat.
Di tempat itu, YM Andi Syarifah Muhaeminah Opu Daengna Putri melantik dan mengukuhkan Andi Abdul Mannan Opu Dg. Pawero sebagai Sulewatang Rampi.
Bagi masyarakat adat, pengukuhan itu bukan sekadar pergantian atau penambahan perangkat dalam sebuah struktur. Ada amanah yang dititipkan. Ada hubungan yang harus dirawat. Dan ada warisan leluhur yang mesti tetap hidup, meski zaman terus bergerak.
Sulewatang Rampi merupakan bagian dari perangkat adat Makole Baebunta yang mengemban amanah khusus dalam membangun koordinasi dengan wilayah Rampi. Kehadirannya menjadi salah satu simpul yang menjaga hubungan dan harmoni dalam tatanan adat.
Di tengah perubahan zaman, simpul-simpul semacam ini menjadi penting. Sebab adat bukan hanya tentang masa lalu. Ia juga tentang bagaimana sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri ketika berhadapan dengan masa depan.
Prosesi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Canning Luwu Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Dg ri Pajung, Maddika Bua YM Andi Syaifuddin Kaddiraja Opu To Sattia Raja, Ketua TP-PKK Luwu Utara, Danyon D Pelopor, serta Danyon FP 872 Andi Jemma.
Di antara para tokoh dan tetua yang hadir, pesan yang sama terasa kuat: warisan leluhur tidak boleh sekadar disimpan sebagai cerita.
Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, dalam sambutannya mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
“Ini adalah bagian dari ikhtiar kita bersama untuk memperkuat identitas kebudayaan dan memperbaiki tatanan sosial,” ujar Andi Rahim.
Kalimat itu seperti mengingatkan kembali bahwa pembangunan bukan hanya soal jalan yang dibuka, gedung yang berdiri, atau angka-angka yang tumbuh dalam laporan pemerintahan. Ada sesuatu yang lebih dalam: karakter masyarakat dan identitas yang membuat sebuah daerah tetap menjadi dirinya sendiri.
Karena itu, Andi Rahim berharap perangkat adat yang baru dilantik mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya menjaga tata adat, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Di Tanah Rampi, adat menemukan cara untuk tetap berbicara kepada zaman.
Ia tidak berteriak. Tidak pula memaksa untuk didengar.
Ia hadir melalui prosesi, amanah, dan nama-nama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebab ketika dunia berubah begitu cepat, masyarakat membutuhkan sesuatu yang membuat mereka tetap tahu dari mana mereka berasal.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam pengukuhan Sulewatang Rampi hari itu: menjaga masa lalu bukan berarti menoleh ke belakang, melainkan memastikan masa depan tetap memiliki akar. (*)

Comment