MAKASSAR, SULSELPASTI.COM — Momentum peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November di Kota Makassar berlangsung penuh makna.
Di tanah Anging Mammiri, masyarakat kembali menegaskan betapa pentingnya peran guru sebagai pelita yang tak pernah padam, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga penjaga nilai budaya Bugis-Makassar seperti siri’, pacce, dan semangat gotong royong.
Di tengah arus modernisasi, Pemerintah Kota Makassar turut memperkuat makna dan fungsi guru melalui kebijakan strategis yang berpihak kepada dunia pendidikan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melalui program MULIA, menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas dan bebas beban bagi masyarakat.
Salah satu implementasi nyata program tersebut adalah pembagian seragam gratis bagi siswa SD dan SMP negeri, sebuah langkah yang sekaligus menghapus pungutan ilegal dan praktik jual-beli seragam di sekolah.
Kebijakan ini bukan hanya mengurangi beban finansial orang tua, tetapi juga memastikan keadilan pendidikan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi.
Pemerintah kota juga terus mendorong pendidikan inklusif dan pembentukan karakter melalui regulasi seperti Peraturan Wali Kota tentang pendidikan karakter anti-korupsi. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pendidikan tetap berlanjut sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam memuliakan dunia pendidikan di Makassar.
Dalam perspektif budaya lokal, berbagai program strategis ini menguatkan kembali peran guru sebagai cahaya yang tidak hanya menerangi ruang kelas, tetapi juga membimbing hati dan karakter peserta didik. Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, guru diberikan ruang lebih luas untuk berinovasi dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Pada momen Hari Guru ini, ajakan kembali disampaikan kepada masyarakat Makassar untuk tidak hanya memberikan ucapan terima kasih, tetapi juga dukungan konkret bagi guru—mulai dari fasilitas, insentif, hingga penghargaan atas peran mereka sebagai agen perubahan.
“Guru adalah pelita yang tak pernah padam. Dengan dukungan visi dan kebijakan pemerintah kota, pendidikan di Makassar tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga wahana pembentukan akhlak, budaya, dan masa depan yang lebih cerah,” ujar Muhammad Aris, S.Pd., M.Pd., kandidat doktor, dalam refleksi peringatan Hari Guru.
Semangat untuk memajukan pendidikan yang inklusif, adil, dan bermartabat di Makassar diharapkan terus menyala, seiring komitmen bersama seluruh pihak dalam memuliakan para pendidik. (*)

Comment