MAKASSAR, SULSELPASTI.COM — Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan, warga Cluster Berlian Permai (CBP), Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, membuktikan bahwa sampah dapat menjadi sumber nilai ekonomi. Melalui Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, mereka membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, produksi kompos, hingga pengembangan urban farming.
Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi yang berpusat di Cluster Berlian Permai (CBP), RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, menjadi contoh nyata keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Gerakan ini lahir dari komitmen warga untuk mengubah persoalan sampah menjadi peluang menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif.
Inisiatif tersebut berawal dari gagasan Ketua RT 4 RW 7, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie, yang mengadopsi pengalaman selama menempuh pendidikan di Jepang. Ia mendorong terciptanya kawasan hunian yang tertata, hijau, bebas asap rokok, serta memiliki budaya mandiri dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, menjelaskan gerakan itu mulai berkembang pada awal 2025 ketika warga menghadapi kendala pengangkutan sampah. Kondisi tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat untuk tidak lagi bergantung pada layanan pengangkutan, melainkan membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya melalui perubahan perilaku.
Program BSU kemudian dikolaborasikan dengan konsep Masjid Nurul Ilmi sebagai masjid peduli lingkungan. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, masjid juga menjadi ruang edukasi pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan, termasuk mengembangkan gagasan “zakat hijau” sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.
Pendampingan kepada warga dilakukan secara bertahap melalui tim Agent of Change yang mendatangi setiap rumah untuk mengajarkan pemilahan sampah organik dan anorganik. Gerakan ini mendapat dukungan berbagai pihak, mulai dari pengembang perumahan yang menyediakan lahan operasional, akademisi, tokoh masyarakat, hingga Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.
Salah satu inovasi utama BSU Nurul Ilmi adalah pembangunan fasilitas pengolahan kompos skala komunitas. Sampah organik rumah tangga diproses menggunakan metode teba menjadi pupuk organik yang selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung program urban farming di pekarangan dan lahan kosong milik warga.
Melalui sistem tersebut, tercipta rantai ekonomi sirkular yang dimulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan menjadi kompos, hingga pemanfaatannya untuk menghasilkan sayuran dan tanaman produktif. Sementara itu, sampah anorganik dipilah dan dijual melalui bank sampah sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Model pengelolaan ini membuat sebagian besar sampah dapat diselesaikan di tingkat lingkungan. Hanya sampah residu yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sementara hasil penjualan sampah anorganik dan pemanfaatan kompos terus berputar menjadi manfaat ekonomi bagi warga. BSU Nurul Ilmi pun menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mampu melahirkan lingkungan yang bersih, mandiri, sekaligus berkelanjutan. (*)

Comment