MAKASSAR, SULSELPASTI.COM Pemerintah Kota Makassar menjadikan peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2026 sebagai titik awal penguatan kebijakan pengelolaan sampah dari sumbernya. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan pemilahan sampah serta membangun teba (lubang resapan sampah organik) dan fasilitas kompos di lingkungan kantor maupun rumah masing-masing.
Kebijakan tersebut disampaikan Munafri saat membuka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Makassar Creative Hub (MCH), Jalan Nusantara, Sabtu (6/6/2026). Menurutnya, pemerintah harus menjadi teladan dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sebelum mengajak masyarakat melakukan hal serupa.
Mengusung tema “Saatnya Bekerja Demi Masa Depan Bumi yang Lebih Berkelanjutan”, Munafri menegaskan bahwa Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum memperkuat aksi nyata menghadapi tiga krisis global, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi lingkungan. Kondisi tersebut, kata dia, mulai dirasakan di Makassar sebagai kota pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Appi mengingatkan bahwa menjaga lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Ia mengajak masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah paling mendasar dalam mengatasi persoalan persampahan.
Saat ini, produksi sampah di Kota Makassar mencapai sekitar 1.036 ton per hari, sementara kapasitas pengangkutan pemerintah baru mampu menangani sekitar 67 persen dari total timbulan sampah. Karena itu, Pemkot Makassar membangun kolaborasi lintas sektor agar pengelolaan sampah berjalan lebih efektif, termasuk memastikan sampah yang telah dipilah tidak kembali tercampur saat proses pengangkutan.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkot Makassar juga akan menerapkan sistem reward and punishment pada berbagai kegiatan dan penyelenggaraan event. Setiap penyelenggara didorong menerapkan pengelolaan sampah yang baik, sementara gerakan ekonomi sirkular terus diperkuat melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk mendukung urban farming, pasar tani, hingga Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Munafri juga mendorong pemanfaatan berbagai teknologi pengolahan sampah seperti teba, eco enzyme, urban farming, hingga Refuse Derived Fuel (RDF). Menurutnya, perubahan harus dimulai dari individu, keluarga, hingga komunitas. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kota Makassar November mendatang, pemerintah juga akan memberikan penghargaan kepada individu, komunitas, kelompok tani, dan perusahaan yang berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar Helmy Budiman mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari RT/RW, lurah, camat, OPD, Perusda, komunitas lingkungan hingga dunia usaha. Selain kerja bakti serentak di seluruh wilayah kota, sepanjang Juni juga digelar FGD, pelatihan, workshop, dan partisipasi pada pameran lingkungan tingkat nasional. Helmy menegaskan seluruh program tersebut akan terus berlanjut sebagai gerakan berkelanjutan untuk membangun budaya peduli lingkungan di Kota Makassar. (*)

Comment